STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
PRIVATE ENTREPRENEURIAL MODEL UNIVERSITY By.UNESCO
E-learning Amikom Research Amikom Wisuda Amikom PMB Amikom Kabar IT

Saturday, 1 March 2014

Resiko dalam Bisnis

1. Salah Kaprah Tentang Pelayanan Pelanggan Anda
Pengusaha sering begitu terfokus pada pelayanan klien yang sudah ada atau berusaha selalu memenuhi setiap pesanan pelanggan, sehingga berakibat mereka tidak menyadari bahwa bisnisnya mulai melambat. Sebenarnya memang harus begitulah sikap kepada para pelanggan, namun hendaknya juga melihat hal-hal lainnya yang sekiranya bisa berpengaruh pada jalan bisnis.


Resep: Jika bisnis mulai melambat, segeralah bereaksi. Potong biaya yang tidak sangat penting, sehingga Anda tidak menghabiskan lebih banyak dibandingkan Kas masuk. Pergeseran strategi pemasaran dapat membantu, seperti memperluas lini produk Anda atau menyesuaikan harga Anda. Dalam kondisi perekonomian seperti ini, Anda tidak bisa hanya mengharapkan jalan keluar dari masalah secara sekenanya saja.

2. Keliru Mengelola Kas atau Uang Tunai
CEO sering mendelegasikan analisis neraca kepada mereka, CFO atau akuntan dari luar perusahaan. Tapi sebagai pengusaha, pemahaman arus kas perusahaan Anda tetaplah sangat penting untuk melihat kesehatan finansial perusahaan secara keseluruhan


Resep: Menetapkan target dan rentang untuk margin kotor dan bersih. Apakah itu mingguan, bulanan atau kuartalan, dan secara berkala me-review keuangan Anda untuk menentukan apakah margin Anda tetap berada di jalur yang benar.

3. Antisipasi Risiko dari Vendor atau Pemasok Anda. Sama bahayanya seperti memiliki hanya segelintir pelanggan, demikian juga jika Anda hanya memiliki sedikit vendor atau pemasok, karena mereka bisa seenaknya memutuskan untuk menaikkan harga sehingga akan membunuh keuntungan Anda.

Resep: Carilah banyak vendor atau pemasok bisnis Anda. Bahkan jika Anda tidak ingin menggunakan banyak vendor atau pemasok, setidaknya Anda sudah mengidentifikasi sumber-sumber alternatif dan mengetahui persyaratan dan harga dari banyak vemdor atau pemasok. Jika hanya ada satu vendor atau pemasok untuk bisnis yang Anda lakukan, maka carilah perusahaan vendor atau pemasok lainnya, yang Anda bisa bermitra dengannya untuk menawarkan layanan pelengkap bagi klien Anda.

4. Catatan Rekening Anda bisa saja Menipu Apa yang lebih buruk daripada tidak mendapatkan penjualan? Jawabannya adalah “Membuat penjualan dan tidak dibayar!” Hampir setiap bisnis memiliki tagihan, dan mereka tidak dapat mengumpulkan uang masuk dari penjualan, atau pelanggan Anda secara konsisten menunggak.

Resep: Monitor terus kesehatan finansial pelanggan Anda. Menelepon pelanggan Anda segera setelah mengetahui bahwa pembayarannya terlambat. Mengatur cara praktis untuk mengetahui pelanggan nakal, termasuk secara cermat mengirimkan tagihan piutang Anda. Buat pedoman garis piutang yang meragukandalam buku besar umum Anda sehingga Anda dapat memahami dan cepat memikirkan untuk bertindak, apa yang seharusnya Anda lakukan.

5. Risiko Kredit Rasa sakit dari krisis kredit masih saja berlanjut. Bunga kredit usaha yang berkisar 12 – 13% per tahun tentunya masih cukup berat bagi dunia usaha dalam menjalankan roda ekonominya, apalagi jika 100% bisnis Anda masih bergantung padakreditusaha.

Resep: Pahamilah sebuah neraca murni. Jangan hanya karena Anda diberi kredit, bahkan ada tambahan “cashback” bukan berarti Anda harus bangga apalagi sampai lalai bahwa itu sebenarnya masuk di perhitungan Hutang Anda, yang pada waktunya harus dibayar lunas. Lebih bijak jika Anda menyesuaikan kemampuan kongkrit bisnis Anda terhadap besaran kredit yang harus Anda tanggung. Dan kredit usaha harus 100% dipakai untuk mengembangkan usaha bisnis Anda.

6. Risiko Hukum Menjadi yang digugat akibat data yang keliru, produk yang rusak atau kondisi kerja yang berbahaya adalah kemungkinan yang nyata dari pelanggaran yang bisa terjadi pada bisnis Anda.

Resep: Menetapkan standar operational procedure dan protokol untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis Anda adalah langkah antisipasi yang bisa menjaga dan memperkecil terjadinya pelanggaran akibat kekeliruan manusia. Jika memungkinkan dengan teknologi, maka menggunakan proses multilevel verifikasi dengan perangkat lunak yang disesuaikan dengan kebutuhan, tentunya akan lebih membuat bisnis Anda terhindar dari kekeliruan yang berakibat pada resiko hukum yang berlaku.